Penipuan deepfake semakin nyata di Indonesia: OJK mencatat 1.379 laporan penipuan yang terindikasi memanfaatkan AI sejak Indonesia Anti Scam Center (IASC) beroperasi pada 22 November 2024 hingga akhir Juni 2026. Pelaku dapat memalsukan video, foto, dan suara, termasuk tiruan tokoh publik yang seolah merekomendasikan investasi. Artikel ini merangkum data resmi per 29 Oktober 2026 dan kebiasaan verifikasi yang bisa Anda terapkan.
Data OJK tentang Penipuan Berbasis AI
Angka itu disampaikan Dicky Kartikoyono, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Juli 2026 pada 4 Agustus 2026, seperti diberitakan Antara.
- Total laporan terindikasi AI: 1.379, dari 22 November 2024 sampai akhir Juni 2026.
- Rincian waktu: 13 laporan pada akhir 2024, dan 1.366 laporan sepanjang 2025 sampai semester pertama 2026.
- Modus yang disebut: pemalsuan video, foto, suara, nomor rekening, nomor telepon, dan dokumen digital yang menyerupai aslinya, serta peniruan lembaga resmi. Menurut OJK, modus yang paling banyak dilaporkan adalah penipuan investasi, terutama yang memakai deepfake video atau foto figur tertentu, disusul klaim robot trading berbasis AI, belanja daring lewat aplikasi atau platform yang mengatasnamakan AI, dan panggilan palsu dengan kloning suara maupun wajah.
- Kerugian: nilai kerugian dari laporan terindikasi AI tidak disebutkan dalam pemaparan tersebut.
Perlu diingat bahwa 1.379 adalah laporan yang terindikasi memakai AI, bukan jumlah seluruh penipuan, dan hanya mencerminkan korban yang melapor.
Sebagai pembanding skala, OJK melalui Satgas PASTI menyampaikan bahwa sejak 22 November 2024 hingga 30 September 2026 IASC menerima 702.342 laporan masyarakat, memblokir 702.833 rekening, memblokir dana Rp825,2 miliar, dan mengembalikan Rp207,16 miliar kepada korban, seperti dilaporkan CNBC Indonesia pada 27 Oktober 2026. Angka ini mencakup semua jenis penipuan keuangan, bukan hanya yang memakai AI, dan memperlihatkan bahwa dana yang kembali ke korban baru sekitar seperempat dari dana yang diblokir.
Peringatan OJK 14 Oktober 2026
Pada 14 Oktober 2026, Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Efek OJK, Edi Broto Suwarno, mengingatkan publik dalam acara Ring The Bell for Financial Literacy 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Menurut laporan CNN Indonesia, penipu memakai deepfake untuk membuat video atau audio tiruan yang seolah memperlihatkan tokoh publik atau profesional keuangan merekomendasikan investasi tertentu. Mereka juga sering memakai nama lembaga keuangan resmi dan memancing korban dengan iming-iming keuntungan tinggi tanpa risiko.
OJK merangkum tiga langkah: periksa sebelum percaya, pahami sebelum berinvestasi, dan pastikan sebelum mentransfer uang. OJK juga mengimbau agar masyarakat tidak pernah membagikan data pribadi, kata sandi, PIN, atau kode OTP kepada siapa pun, serta menilai setiap tawaran dengan prinsip legal dan logis.
Mengapa Deepfake Efektif
Penipuan jenis ini adalah rekayasa sosial yang diperkuat teknologi. Wajah atau suara yang kita kenal membangun kepercayaan dalam hitungan detik, dan tekanan waktu membuat korban tidak sempat berpikir. Teknik dasarnya sama dengan social engineering dan phishing; yang berubah adalah kualitas tiruannya. Pemerintah juga menaruh perhatian pada sisi platform, seperti dibahas pada pemblokiran Grok karena deepfake seksual.
Linimasa Singkat
- 22 November 2024: Indonesia Anti Scam Center (IASC) mulai beroperasi dan menerima laporan.
- 10 Januari 2026: pemerintah memblokir sementara akses ke Grok karena konten deepfake pornografi.
- 4 Agustus 2026: OJK memaparkan 1.379 laporan terindikasi AI pada konferensi pers RDKB Juli 2026.
- 14 Oktober 2026: OJK mengingatkan masyarakat tentang deepfake investasi di acara literasi keuangan.
- 27 Oktober 2026: OJK merilis data IASC per 30 September 2026.
Siapa yang Paling Rentan dan Apa yang Belum Diketahui
Siapa pun bisa menjadi sasaran, tetapi risiko paling besar ada pada orang yang menerima tawaran investasi lewat media sosial dan aplikasi pesan, serta staf yang berwenang menyetujui pembayaran. Pemalsuan video dan suara membuat verifikasi visual yang dulu cukup, misalnya melihat wajah atasan di layar, tidak lagi dapat dipercaya sendirian.
Ada juga hal yang belum jelas dari data publik: OJK tidak memerinci nilai kerugian dari laporan terindikasi AI, dan angka 1.379 tidak memisahkan berapa laporan yang benar-benar terbukti memakai deepfake dibanding bentuk pemalsuan digital lain. Karena itu, kita membaca angka ini sebagai gambaran tren laporan, bukan ukuran total kerugian nasional.
Kebiasaan Verifikasi yang Bisa Anda Terapkan
- Cek legalitas: pastikan penawar investasi dan produknya terdaftar dan berizin melalui kanal resmi OJK sebelum menyetor dana.
- Curigai janji untung besar tanpa risiko: imbal hasil tinggi dan pasti adalah tanda bahaya klasik, siapa pun yang menyampaikannya.
- Verifikasi lewat jalur lain: bila "atasan", "keluarga", atau "tokoh" meminta transfer lewat video atau pesan suara, hubungi balik lewat nomor yang sudah Anda kenal, bukan nomor yang diberikan di pesan itu.
- Sepakati kata sandi verbal: keluarga dan tim keuangan dapat menyepakati kata pemeriksa untuk permintaan darurat yang menyangkut uang.
- Perhatikan keganjilan: gerak bibir yang tidak sinkron, kedipan atau cahaya yang janggal, suara datar, atau permintaan mendesak. Namun jangan hanya mengandalkan ini karena kualitas tiruan terus membaik.
- Lindungi data otentikasi: jangan pernah memberikan PIN, OTP, atau kata sandi, sekalipun peminta mengaku petugas bank atau OJK.
- Batasi jejak publik: video dan rekaman suara yang Anda unggah dapat dipakai sebagai bahan tiruan.
Panduan pencegahan terkait ada di cara mencegah serangan phishing.
Apa yang Perlu Dilakukan Organisasi
Perusahaan perlu menetapkan prosedur persetujuan transfer yang tidak bergantung pada satu kanal komunikasi: dua orang menyetujui pembayaran bernilai besar, verifikasi balik lewat kontak terdaftar, dan jeda waktu untuk permintaan mendadak. Latih staf keuangan, layanan pelanggan, dan HR dengan simulasi, karena mereka paling sering dihubungi penipu. Jika Anda ingin membangun pemahaman keamanan siber tim secara terstruktur, lihat kursus Linuxhackingid.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Bagaimana cara tahu sebuah video adalah deepfake?
Tidak ada ciri yang pasti. Fokuslah pada konteks: apakah ada janji untung tanpa risiko, tekanan waktu, atau permintaan transfer. Verifikasi lewat saluran resmi, bukan lewat tautan di video.
Apa yang harus dilakukan jika sudah transfer?
Segera hubungi bank Anda, lalu laporkan ke IASC melalui iasc.ojk.go.id agar pemblokiran rekening pelaku bisa dikoordinasikan dengan cepat. Simpan bukti selengkap mungkin: nomor telepon pelaku, isi percakapan beserta waktunya, bukti transfer, nama entitas atau aplikasi, serta akun media sosial dan tautan yang dipakai pelaku. Menurut OJK, bukti yang lengkap membantu mempercepat verifikasi.
Apakah tokoh publik yang ditiru bisa dimintai tanggung jawab?
Pada umumnya tidak. Tokoh yang wajah atau suaranya dipalsukan tanpa izin justru ikut menjadi korban. Tanggung jawab hukum ada pada pelaku yang membuat dan menyebarkan tiruan untuk menipu.
Apakah suara keluarga di telepon bisa dipalsukan juga?
Ya, OJK menyebut pemalsuan suara sebagai salah satu modus. Karena itu, untuk permintaan uang mendesak, selalu verifikasi balik lewat nomor yang sudah Anda simpan dan gunakan kata pemeriksa yang disepakati sebelumnya.
Kesimpulan
Data OJK menunjukkan penipuan berbasis AI sudah menjadi masalah nyata di Indonesia, dan peringatan OJK pada 14 Oktober 2026 menekankan kebiasaan sederhana: periksa, pahami, dan pastikan sebelum mentransfer. Linuxhackingid mengajak Anda dan tim Anda membangun kebiasaan verifikasi itu sebagai budaya.
Every article is reviewed by the practice lead who ran the work before it is published.
